Jumat, 04 Mei 2012

Sebuah sindiran terhadap Facebook


 Pengguna dan Facebook Tidak Peduli Privasi
Bagaimana anda membagi segala sesuatu di Facebook? Pernahkah sekali saja dalam sebulan anda melihat-lihat pengaturan privasi yang anda lakukan?

Bagi sebagian besar pengguna Facebook, pengaturan privasi merupakan hal yang sering dilupakan. Padahal pengaturan privasi ini sangat perlu. Cobalah perhatikan sewaktu anda melakukan Facebook, terdapat peringatan bahwa apa yang akan anda bagi tersebut bisa dilihat oleh publik, teman, teman dari teman atau hanya konsumsi pribadi. Facebook juga sudah menyarankan bahwa anda semestinya membagi teman-teman dalam jalur pertemanan anda ke berbagai pembagian seperti Family, teman dekat, rekan sekerja dan lainnya. Lalu mengapa masih banyak pengguna Facebook yang abai terhadap hal ini?

Sebuah studi terbaru yang dilakukan oleh Consumer Reports di Amerika Serikat membuktikan bahwa masih banyak pengguna Facebook yang abai terhadap pengaturan privasi mereka. Dalam studi tersebut ditemukan setidaknya 13 juta pengguna Facebook tidak menggunakan kontrol privasi ketika mereka membagi banyak hal di Facebook. Ini artinya update dan data mereka akan dapat dilihat oleh publik padahal update dan data tersebut banyak yang bersifat pribadi.

Berdasarkan pantauan Consumer Reports pengguna Facebook di Amerika Serikat selama 12 bulan terakhir 39,3 juta teridentifikasi sebagai anggota keluarga, 20,4 juta pengguna menyertakan tanggal lahir mereka di profil Facebook, 7,7 juta pengguna melakukan LIKE terhadap halaman yang berafiliasi dengan keagamaan, 4,6 juta pengguna mendiskusikan kehidupan cintanya di wall, 2,6 juta mendiskusikan penggunaan alkohol saat berekreasi, dan 2,3 juta pengguna melakukan LIKE terhadap halaman yang berorientasi seksual.

Kegiatan-kegiatan serta data pengguna Facebook tersebut tentu saja banyak yang tidak layak diketahui oleh publik. Namun karena pengguna tidak awas dengan privasi, akibatnya data-data dan update yang termasuk pribadi tersebut dapat dibaca olek publik.

Ada beberapa hal yang menyebabkan mengapa pengguna Facebook sering abai dengan pengaturan privasi mereka. Pertama, kebijakan privasi Facebook yang cenderung sangat sulit dipahami. Bukan rahasia lagi, meskipun sudah beberapa kali diperbaiki, kebijakan privasi Facebook sering tidak dimengerti oleh penggunanya sendiri. Pengguna sering karena melihat begitu banyaknya kebijakan privasi tersebut langsung mengatakan setuju padahal cukup banyak hal yang bisa diragukan oleh pengguna dalam kebijakan privasi Facebook tersebut.

Kedua, pola sharing Facebook yang pada dasarnya memungkinkan semua pengguna Facebook melihat ke profil pengguna lainnya. Di Facebook pengguna terlebih dahulu menambahkan teman sebanyak mungkin, namun kemudian bingung ke bagian mana saja teman-teman tersebut akan dimasukkan. Hal ini berbeda dengan di Google Plus misalnya, dimana pengguna terlebih dahulu membuat lingkaran pertemanan, menamai lingkaran tersebut, baru kemudian menambahkan teman ke lingkaran sehingga ketika akan membagi sesuatu, teman yang ada di lingkaran tertentu saja yang menikmati suatu update tertentu yang hanya diberikan kepada lingkaran tersebut.

Ketiga kepentingan bisnis di belakang Facebook. Bukan hal yang aneh sebenarnya mengapa Facebook menggratiskan layanan yang mereka berikan kepada penggunanya karena di dalam Facebook sendiri sekian banyak pengiklan yang memanfaatkan bukan hanya pengguna yang abai terhadap pengaturan privasi mereka, tetapi juga pengguna yang sudah mengatur privasi mereka dengan baik. Iklan dalam situs adalah sumber pendapatan utama Facebook sehingga makin banyak pengguna yang membiarkan iklan (artinya tidak mengatur privasi) akan sangat baik bagi Facebook.

Keempat, teknologi tracking Facebook. Percaya atau tidak penyadapan Facebook terhadap pengguna, tidak hanya ketika pengguna menggunakan layanan Facebook atau berada di Facebook, tetapi juga setelah pengguna keluar bahkan mungkin menutup browser. Salah satu upaya tracking Facebook adalah dengan menyebarkan sebanyak mungkin LIKE Button atau recommend button. LIKE button dan recommend button sejenisnya seperti Facebook Connect merupakan alat efektif untuk mengetahui apa dan bagaimana pengguna dalam melakukan surfing di internet.

The New York Times melaporkan:

    When you click a Facebook “Like” button on other Web sites to tell your friends about a cool band, favorite political candidate or yummy cake recipe, you may know that you are also giving intelligence to Facebook the company, which makes money through targeted advertising.

    That’s because the “Like” and “Recommend” buttons Facebook provides to other Web sites send information about your visit back to Facebook, even if you don’t click on them. Since these buttons are now all over the Web — about 905,000 sites use them, the privacy-software maker Abine estimates — Facebook can find out an awful lot about what you do online even when you’re not on Facebook.

Ini artinya sebaik apa pun privasi anda, Facebook tetap memiliki celah yang sangat lebar untuk mengetahui aktifitas anda di internet sehingga kemudian dapat menampilkan iklan tertarget. Lebih jauh, dengan demikian pengaturan privasi saja menjadi tidak cukup, butuh usaha lebih untuk sama sekali terhindar dari Facebook. Ini artinya pada dasarnya Facebook memang tidak menginginkan penggunanya untuk mengatur privasi sebaik mungkin.

Tentu saja hal ini merupakan tantangan yang lebih berat bagi pengguna yang peduli dengan privasi mereka ketika menggunakan layanan Facebook atau bahkan setelah keluar dari Facebook. Bloomberg yang mengutip laporan Consumer Reports menyimpulkan bahwa Facebook tidak cukup jelas dalam memberikan penjelasan kepada 150 juta pengguna Facebook di Amerika Serikat. Dengan adanya 13 juta pengguna yang tidak mengatur privasi mereka mengindikasikan bahwa mereka bisa saja tidak menemukan pengaturan privasi atau tidak mengerti cara mengamankan data mereka.

lalu, apa yang dapat pengguna lakukan untuk setidaknya mengurangi kebocoran privasi yang kemungkinan besar akan selalu terjadi? Ada beberapa langkah yang perlu anda lakukan, yaitu sebagai berikut.

1. Pikirkan secara matang apa yang akan anda bagi. Hal ini penting karena meskipun kemudian anda hapus akun, apa yang anda bagi tersebut masih bisa berada di Facebook minimal 30 hari bahkan informasi tertentu masih saja ada di Facebook setelah 90 hari anda menghapusnya.

2. Lakukan cek eksposure secara regular minimal satu bulan sekali. Ini penting  karena bisa saja apa yang anda bagi salah sasaran, kalau perlu berikan pengaturan yang berbeda untuk setiap informasi tertentu.

3. Lindungi informasi dasar anda yang sangat penting. Informasi mengenai tempat anda bekerja, tempat tinggal dan tempat-tempat yang sangat sering dikunjungi perlu anda lindungi. Anda perlu mengerti bahwa membagi informasi tempat anda bekerja pada aturan frineds of friends bisa berarti ribuan orang membaca informasi tersebut.

4. Ketahui apa yang tidak bisa anda lindungi. Foto profil dan user name anda merupakan konsumsi publik. Jika anda peduli privasi, sebaiknya jangan gunakan foto wajah yang sangat jelas, atau jika masih ingin memperlihatkan wajah, perlu trik tertentu agar tidak terlihat jelas. Jangan gunakan foto anak anda sebagai profile.

5. Lakukan unpublic untuk wall anda, batasi hanya pada teman.

6. Matikan Tag Suggest, ini penting agar wajah anda tidak mengalir ke mana-mana.

7. Batasi apa yang dapat dilakukan oleh aplikasi terhadap profil anda. Jangan banyak-banyak menggunakan aplikasi, makin banyak aplikasi yang anda pakai (terutama untuk menampilkan diri anda) semakin tersebar profil anda sehingga akan makin mudah publik mengtahui anda.

8. Jika tujuh langkah di atas gagal, lakukan deactive account dan jika masih belum cukup hapus akun Facebook anda.

Terakhir, jadilah pengguna Facebook yang cerdas.

Semoga bermanfaat.

Sumber: Comsumer Reports, The New York Times, TheNextWeb, Bloomberg

http://teknologi.kompasiana.com/internet/2012/05/04/pengguna-dan-facebook-tidak-peduli-privasi/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar